Mempersiapkan Anies-Sandi 2024

Updated: Aug 26

Catatan Eko Satiya Hushada*

KEMBALI BERSAMA - Anies Baswedan dan Sandiaga S Uno


Pemilihan Presiden (Pilpres) memang masih lama untuk ukuran kalender. Perlu tiga cetakan lagi. Tapi untuk kerja-kerja politik, 2024 itu sudah di depan mata. Kasak-kusuk, bongkar pasang pasangan calon hingga peluang koalisi parpol sedang berlangsung. Apalagi petahana khususnya Joko Widodo, bakal tak maju lagi karena sudah dua periode. Tentu membuka peluang bagi para tokoh untuk nyapres atau dicapreskan.

Nama-nama yang muncul sejauh ini ya masih seputar Anies Baswedan, Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, dan Airlangga Hartarto. Sedangkan di cawapres, muncul nama Sandiaga S Uno, Puan Maharani dan Agus Yudhoyono. Masih ada beberapa nama figur lainnya sesuai hasil survei sejumlah lembaga, tapi persentase popularitas dan elektabilitasnya terlalu kecil.

Sejauh ini, bisa dibilang, baru Prabowo-Puan yang digadang-gadang menjadi pasangan calon, dan aman untuk urusan perahu. Bahkan tanpa Gerindra sekalipun, PDIP bisa mengusung calon karena terpenuhinya presidential threshold. Pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum menyebutkan, parpol atau gabungan parpol yang bisa mencalonkan adalah yang meraih kursi paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPR RI, atau memperoleh 25 persen dari suara sah secara nasional pada Pemilu anggota DPR RI sebelumnya.

Dengan demikian, Prabowo-Puan sudah di atas angin untuk pencalonan Pilpres 2024 nanti. Sedangkan figur lainnya, masih harus menunggu kabar baik dari gabungan parpol. Inilah yang sedang digarap saat ini, baik oleh orang dekat mereka yang ingin nyapres, parpol, hingga mereka pemain politik yang tak ingin kehilangan momen di 2024 nanti.

Selain Prabowo-Puan, dua nama cukup ‘menggoda’ untuk diusung sebagai calon presiden, yakni Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Namun, keduanya punya batu sandungan dalam soal partai pengusung. Ganjar yang kader PDIP itu, masih harus meyakinkan bahwa ia yang layak diusung ketimbang Puan. Karena di atas kertas, Puan tentu punya peluang yang lebih besar untuk dicalonkan oleh partainya, PDI Perjuangan. Maklum, Puan anak ketua umum PDIP, Megawati, trah soekarno. Sementara Ganjar yang elektabilitasnya di atas Puan, sebatas kader partai.

Namun, saya yakin, Megawati tetaplah menjunjung tinggi urusan popularitas dan elektabilitas dalam menentukan calon. Partai pemenang pemilu itu tentu tak ingin gigit jari karena kalah di Pilpres 2024 nanti. Kader yang berpeluang besar, tentu tetap akan menjadi pilihan. Soal Puan, bisa dikesampingkan.

Lantas, bagaimana dengan Anies Baswedan? Peluang untuk merebut kursi Presiden di 2024 nanti terbuka lebar. Jika Anies tak diperhitungkan, Anies tentu sepi dari serangan yang arahnya meluluhlantakkan kredibilitasnya, pembunuhan karakter, hingga upaya menyeret Anies ke gedung merah putih di Kuningan. Mulai dari urusan Formula E yang tak ada sisi baiknya, hingga urusan ecek-ecek yang sebenarnya bukan urusan Anies.

Kalau ada yang sebut Anies bakal jadi ‘pengangguran politik’ setelah tak lagi menjabat Gubernur DKI Jakarta setelah 16 Oktober 2022 nanti, justru sebaliknya. Anies bakal sangat leluasa untuk berkampanye di berbagai daerah. Siapa yang bisa menyoal Anies bertemu dengan tokoh dan masyarakat di Medan, atau di Aceh, ketika ia bukan pejabat apapun? Kesempatan Anies untuk menggenjot popularitas dan elektabilitas semakin terbuka lebar.

Adalah Surya Paloh, Ketua Umum Partai Nasdem punya naluri politik yang kuat. Jauh hari, ia sudah meminang Anies untuk menjadi calon presiden Partainya. Bahkan kini, tak hanya Surya Paloh yang ‘naksir’ Anies. Jangan kaget kalau tiba-tiba Joko Widodo sebut nama Anies sebagai jagoannya di 2024. Namanya juga politik. Tidak ada kawan dan lawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi.

Jokowi sebentar lagi akan mengakhiri masa jabatan presidennya yang sudah dua periode. Tentu ia perlu pengamanan kepentingan politiknya setelah tak lagi menjabat. Belumlah layak jika mendorong Gibran, Anaknya untuk maju di arena pilpres 2024. Pilihan realistisnya adalah Anies.

Kenapa bukan Ganjar Pranowo? Jokowi tentu tak ingin jagoannya terkait dengan PDIP, walau Jokowi sendiri adalah kader PDIP, yang disebut Megawati sebagai petugas partai. Jokowi ingin punya kekuatannya sendiri, kekuatan yang selama ini mem-back up nya di luar lingkaran PDIP. Terlebih hubungan Jokowi dengan petinggi PDIP yang nggak mulus-mulus amat.

Gerakan mendorong Anies Baswedan untuk mendapat dukungan dari kelompok politik Jokowi saat ini sedang berlangsung. Gerilya ke sejumlah tokoh untuk mendukung Anies terus dilakukan. Siapa pasangannya? Muncul nama Sandiaga S Uno. Ya, jadilah Anies-Sandi, seperti pIlkada DKI Jakarta lalu.

Jika pasangan ini yang maju, sejumlah parpol bakal berkoalisi. Sebut saja antara lain PKS, Nasdem, Demokrat, PPP, PAN dan Partai Ummat. Bagaimana dengan Gerindra? Jika Prabowo jadi dipasangkan dengan Puan, tentu Gerindra akan berlabuh di PDIP. Namun, jika harus menghadapi Anies-Sandi, PDIP perlu mempertimbangkan lagi pasangan Prabowo-Puan. Bisa jadi, Ganjar yang akan diusung. Apakah mungkin Prabowo-Ganjar? Atau, Ganjar-Puan? Dua kader PDIP jadi pasangan calon. Hal yang mustahil. Prabowo-Ganjar pun, masih berat jika harus menghadapi Anies-Sandi.

Siap-siap Muhaimin Iskandar jadi kuda hitamnya. Ya, Ganjar-Cak Imin. PDIP berharap dukungan dari kalangan Nahdliyin, untuk menghadapi Anies-Sandi yang punya pemilih militan.

KUDA HITAM - Siapa yang mengira, Cak Imin akan dicalonkan sebagai cawapres berpasangan dengan Ginajar.


Megawati pada akhirnya harus berbesar hati, melepas kekuatan PDIP bukan pada trah Soekarno lagi. Ganjar jadi pilihannya. Puan pun harus menarik diri. Tentu dengan komitmen-komitmen, jika sampai akhirnya Ganjar yang diusung PDIP. Ya, Ganjar-Cak Imin.

Prabowo pun harus nerimo, PDIP membatalkan rencana awal memasangkan Prabowo dengan Puan. Jika situasinya demikian, Gerindra bakal bergabung dengan koalisi partai pengusung dan pendukung Anies-Sandi. Pada akhirnya, pasangan capres yang maju di pilpres 2024 hanya dua pasangan. Mereka adalah Anies-Sandi vs Ganjar-Cak Imin. (penulis adalah direktur eksekutif Brand Politika).


214 views0 comments

Recent Posts

See All